Selasa, 13 Juli 2010

Dasar- Dasar Overclocking Lanjutan

Overclocking (Part 2)
Setelah kita melihat contoh tadi, mungkin sekarang Anda bertanya-tanya apakah yang sebenarnya kita lakukan tadi? Yang kita lakukan tadi adalah memperbesar aliran data antara prosesor – chipset – memori pada sistem Intel atau prosesor –memori pada AMD dan memperpendek waktu akses memori terhadap data yang sedang di olah, sehingga aliran data yang ditransfer lebih cepat. Mengapa hal seperti itu bisa dikatakan overclocking, sedangkan tidak ada kenaikan clock prosesor?

Seperti yang telah kami kemukakan sebelumnya, bahwa overclocking itu pada dasarnya adalah membuat sistem yang kita gunakan saat ini berjalan lebih cepat dan stabil dari sebelumnya. Dan teknik yang baru dijelaskan adalah teknik yang paling mudah untuk dilakukan tanpa adanya resiko yang sampai merusak hardware Anda yang tentunya bisa merugikan. Perlu diperhatikan pula sewaktu meng-overclock tetap harus hati-hati. Overclocking saat ini sebenarnya sudah mulai didukung oleh hampir semua produsen-produsen peri[heral komputer, yang dipelopori oleh salah satu produsen mainboard dari Taiwan sejak 1993. Mungkin bagi Anda yang sudah memakai komputer sejak dulu masih ingat bagaimana susahnya untuk merakit sendiri sistem yang telah kita beli karena harus merubah jumper di mainboard agar mainboard mengenali prosesor yang kita pakai. Tapi sekarang produsen sudah membuat agar settingan tersebut bisa dilakukan dari BIOS saja, tanpa harus menyentuh mainboard sama sekali, bahkan pada beberapa produsen sudah memberikan settingan untuk mengubah voltase/tegangan untuk periferal di dalamnya.

Inilah celah bagi para overclocker untuk memudahkan mereka meng-overclock sistem mereka, hingga produsen mainboard pun membuat software overclock Under-Windows yang bisa digunakan tanpa harus masuk ke BIOS.

Hal yang juga di lihat oleh para overclocker biasanya kualitas peripheral. Contohnya seperti pabrik pembuat mainboard, pabrik pembuat kapasitor-kapasitor yang terdapat dalam mainboard, pabrik pembuat serta seri chip yang digunakan oleh memori, tanggal dan seri tertentu dari sebuah prosesor, tanggal pembuatan sebuah VGA, dan masih ba-nyak lainnya. Hal-hal seperti di atas sangat mempengaruhi overclocking yang akan dilakukan. Kenapa seperti itu?

Kami akan jabarkan sedikit beserta contohnya :

Kita ambil contoh mudah pada prosessor. Mengapa pada tanggal dan seri-seri tertentu prosesor tersebut bisa di overclock lebih tinggi dari seri lainnya? Sebuah prosesor terdiri dari core dan board tempat meletakkan corenya, kedua hal tersebut mempengaruhi kualitas akhir dari sebuah prosesor yang di produksi. Satu kali proses produksi bisa terjadi kualitas keduanya bagus, maka seluruh prosesor yang dibuat pada tanggal tersebut berkualitas sangat baik. Tapi apabila hanya salah satu dari kedua hal tersebut yang bagus maka kualitasnya bagus. Begitu juga ketika proses produksi keduanya kurang begitu bagus maka kualitasnya bisa di bilang rata-rata. Kenapa pada suatu saat proses produksinya bisa bagus pada saat lainnya hanya rata-rata? Hal itu terkait dengan cara sebuah pabrik prosesor membuat produk mereka. Biaya untuk membuat prosesor tidaklah kecil. Selain itu yang mempengaruhi adalah dari cara pembuatan. Sebuah prosesor di buat menggunakan intensitas sinar laser yang ditembakkan sedemikian rupa sehingga terbentuklah prosesor seperti yang kita lihat sekarang.

“Pada saat-saat tertentu dari proses produksi prosesor tersebut terkadang laser kurang fokus sehingga hasilnya kurang sempurna. Inilah yang menyebabkan kenapa ada prosesor sangat bagus (kami menyebutnya prosesor “gold”) dan ada yang rata-rata. Untuk mengetahui perbedaan kualitas dari setiap prosesor tersebut biasanya kami mencoba satu per satu prosesor dengan tanggal dan seri yang berbeda atau biasa disebut batch code”.

Contoh lainnya yang gampang juga di lihat dari pabrik pembuat mainboard/peripheral lainnya. Kenapa bisa begitu? Karena bila sebuah pabrikan selalu membuat board yang berkualitas maka pabrikan tersebut akan selalu terkenal akan kehandalan produk mereka. Yang bisa kita lihat ada beberapa produsen yang khusus menciptakan mainboard untuk overclocker.

Produsen tersebut dari awal memang mengkhususkan diri membuat produk untuk para overclocker. Kualitas komponen dalam mainboard mereka adalah komponen kelas atas, fitur dari BIOS mereka sangat mendukung overclocking, karena merekalah yang pertama kali di dunia mengenalkan inovasi mainboard tanpa jumper, semua bisa di atur cukup dari BIOS. Seperti yang telah di bahas sebelumnya, fitur dari settingan FSB, voltase/tegangan, timing memori bisa dengan gampangnya di ubah dari BIOS. Sehingga kita bisa meniru settingan dari sebuah sistem yang sama tetapi spesifikasinya lebih tinggi dari sistem kita.

Itulah celah yang digunakan oleh overclocker untuk meng-overclock sistem mereka. Apapun cara akan mereka jalani demi mendapatkan sebuah sistem yang lebih tinggi dari yang lain hanya demi kepuasan batin saja. Untuk saat sekarang, overclocking belum bisa untuk dijadikan pekerjaan. Tetapi salah satu dampak dari overclocking yaitu pengetahuan tentang hardware dan cara perbaikannya bila ada kerusakan pada hardware tersebut bisa menempatkan kita sama dengan seorang teknisi komputer yang handal.

Overclocking bukanlah sesuatu hal yang menakutkan, Anda hanya perlu mengetahui sedikit karakter dari sebuah peripheral dan bagaimana cara mengoptimalkannya secara benar, itu saja. Semakin sering Anda berhadapan dengan hal tersebut & memecahkan permasalahan yang terjadi, maka overclocking sama mudahnya dengan menginstall software. Overclocking menurut kami adalah dampak dari adanya komputer di tengah-tengah kita. Karena komputer ada hacker, karena komputer juga ada overclocker. Dengan cara & minat yang berbeda tapi dengan maksud sama, yaitu menggunakan komputer mereka lebih dari sekedar ‘mesin hitung’ atau ‘mesin tik’.

Agar mendapatkan hasil yang optimal, kita harus melewati tahap demi tahap proses overclocking secara benar. Namun saat kita melakukan optimalisasi dan overclocking, seringkali kita tidak sabar dan langsung berharap akan mendapatkan hasil istimewa dalam jangka waktu yang sesingkat mungkin. Kita tidak pernah mencoba mencermati tahapan-tahapan yang harus dilalui sebelum melakukan overclocking, karena sesungguhnya keseluruhan proses tersebut sangat berpengaruh besar terhadap hasil optimalisasi yang kita peroleh.

Biasanya tanpa step-step yang jelas dan banyak berpikir, kita langsung saja masuk ke BIOS, menaikkan FSB (Front Side Bus), menaikkan voltase, utak atik sana sini untuk mencari settingan tercepat dan sebagainya. Alhasil kinerja sistem bukannya meningkat namun justru kesetabilan yang menjadi korban.

Jikapun ada peningkatan hasilnya masih jauh dari harapan. Efek yang ditimbulkan dari overclocking asal-asalan tersebut, komputer menjadi sering hang, restart, blue screen, dan timbul berbagai masalah lain semacamnya. Sehingga banyak yang mengeluh bahkan menganggap overclocking adalah “momok” yang hanya membuat komputer menjadi tidak stabil, panas, dan gampang rusak. Sebetulnya proses optimalisasi komputer, terlebih overclocking itu harus melalui tahapan demi tahapan yang benar dan tidak asal-asalan agar hasil yang didapatkan memuaskan atau sesuai harapan.

Karena dengan optimalisasi dan overclocking yang tepat dan benar, mampu membuat komputer dengan spesifikasi sangat tinggi sekalipun sanggup dikalahkan dengan mudah menggunakan komputer yang memiliki spesifikasi diatas kertas jauh berada dibawahnya. Bukan hanya dikalahkan dalam hal kecepatan, namun juga dalam hal kestabilan dan kehandalan mengatasi aplikasi-aplikasi berat.

Dari sini kita mencoba memahami bahwa seni overclocking bukan hanya berusaha meningkatkan kinerja dan kecepatan saja, namun juga menjaga bahkan meningkatkan durabilitas atau kestabilan sistem. Untuk itu pada bahasan kali ini kami berusaha memberikan panduan tahap demi tahap yang harus kita lakukan dalam proses optimalisasi dan overclocking, yaitu :

Dalam tahap ini kita berusaha memahami setiap komponen yang ada pada sistem kita, satu persatu kita pahami karakteristiknya, kemampuan optimal dan maksimalnya. Hal ini sebetulnya sangat penting bagi mereka yang hendak merakit sebuah sistem. Karena seperti telah diutarakan diatas, sistem dengan pemilihan hardware yang “tepat” dengan harga jauh lebih murah, mampu memiliki kinerja, dan kestabilan jauh diatas sistem dengan harga dua atau bahkan tiga kali lipat darinya. Lalu bagaimana mungkin ini bisa terjadi ? Ini semua tampak aneh, tapi ini bukan omong kosong, karena yang paling penting dari pemilihan komponen hardware adalah “keseimbangan” kinerja. Dalam arti sistem yang di bangun benar-benar mampu memberikan kinerja yang sesungguhnya. Apakah yang dimaksud dengan “kinerja sesungguhnya” ? Yah ini adalah kinerja hardware optimal, karena label, kemasan, dan seri suatu produk belum tentu menggambarkan kinerja optimalnya. Baik itu processor, display card, memory, dan sebagainya, semua tidak dapat kita bandingkan kinerja optimalnya hanya dari “nama, label, dan typenya”. Karena semakin baru keluaran barangnya, semakin tinggi angkanya, dan semakin besar serinya, belum tentu itu menggambarkan kemampuannya yang semakin besar. Lalu bagaimana kita bisa mengetahui kinerja ‘optimal’, atau kinerja sesungguhnya ? Berikut ini akan kami berikan gambaran awal untuk memahaminya :

PROCESSOR

* CORE adalah die dari processor, masing masing seri memiliki code name tersendiri. Dengan mengenal code core processor, kita dapat mengenali type processor, FSB, ukuran cachenya, teknologinya, dan informasi penting lainnya. Untuk itu, agar kita bisa lebih memahami dan lebih mengenal tentang processor, mari kita berbicara soal core dan code corenya, jangan pernah lagi terjebak pada penamaan resmi dari produsen processor. Penamaan seri dari pihak produsen belum tentu menunjukkan kinerja dan potensi sesungguhnya, bahkan cenderung membingungkan dan menjebak. Dengan pemahaman code name core kita akan lebih jeli menentukan processor mana yang terbaik dan memiliki potensi overclocking terbesar. Sebagai contoh : FX 60 memiliki jenis core yang sama dengan X2 4400+ (Toledo) padahal harga yang ditawarkan dua kali lipat lebih mahal, dan tentu masih sangat banyak contoh-contoh lainnya. Dengan pengenalan core kita dapat banyak menghemat biaya karena mendapatkan barang yang jauh lebih murah dengan kinerja tidak jauh berbeda.
* CLOCK Processor seringkali membingungkan kita, untuk itu jangan pernah menilai kinerja processor dari clock (Ghz / Mhz) speednya. Sering kita terjebak dengan angka clock “GHz / Mhz” dari processor. Namun sebetulnya hal itu sangat-sangat salah, dan sangat-sangat tidak relevan lagi untuk kita jadikan patokan kinerja. Sebagai contoh, beberapa orang kebingungan dengan processor keluaran lama dengan clock 3000Mhz / 3Ghz, tapi kenapa justru processor baru-baru sekarang hanya memiliki clock yang lebih rendah (1.8Ghz, 2.4Ghz). Lebih parahnya lagi, kadang beberapa orang justru menganggap hal ini sebagai penipuan. Mungkin untuk jaman Pentium I, Pentium II, Pentium III, AMD K6 , dan processor-processor sebelumnya, kecepatan clock masih bisa dijadikan patokan, tapi sekarang tidak bisa lagi. Hal inilah yang semakin memusingkan ‘end-user’ karena kinerja processor yang semakin samar dan tidak jelas, karena penamaan seri yang sangat beraneka ragam dan tidak mudah dipahami. Hal ini dikarenakan Intel juga mulai menggunakan patokan kinerja, tidak lagi berdasarkan clock, yang sebelumnya telah dipelopori AMD. Tentu anda masih ingat saat Athlon XP 1700+ dengan clock 1463Mhz. Hal ini akan kita bahas lagi lebih dalam pada edisi khusus processor. Namun untuk memudahkan anda, sebagai patokan kasar dan gampang, jika kita hendak membeli processor, sebaiknya kita mencari clock yang “terendah” dengan teknologi atau type processor yang “terbaru”. Biarpun clocknya tampak lebih rendah, bila itu merupakan type terbaru, pasti kinerja yang ditawarkan akan lebih menjanjikan untuk anda, dan dijamin anda tidak akan salah pilih, atau kecewa dengannya.
* CODE seri processor, atau batch code produksi processor, kadang juga menjadi sangat penting untuk mendeteksi seri ‘Gold-Batch’ dari type processor tertentu. Karena kualitas processor untuk type dan seri yang sama bisa beragam. Lalu apa itu ‘Gold-Batch’? Penjelasan sederhananya begini, ratusan keping processor dengan teknologi yang sama, meskipun seri kecepatannya berbeda, dicetak dalam satu tempat cetakan yang sama yaitu “wafer” (wafer adalah lempengan bundar sebagai tempat cetakan processor). Disini processor yang berada di posisi tengah wafer tersebut diyakini cenderung memiliki kemampuan lebih tinggi, karena akurasi fokus sinar proyeksi ke silikon lebih tepat pada bagian tengah wafer tersebut. Dari prosessor yang dihasilkan tersebut dilakukan pengujian awal, dan biasanya selisih kinerja dari pengujian itu dibuat jenjang variasi kecepatan processor di pasaran. Sehingga, processor dengan kecepatan berbeda bisa saja dia berada pada cetakan yang sama. Untuk itu selisih kinerja “optimalnya” sesungguhnya sama juga, hanya saja pada lempeng PCB processor diberikan “FID” atau pengatur untuk menentukan clock speed yang dia jalankan pada kondisi standard. Kadang pada awal-awal produksi suatu type processor baru, satu lempeng wafer digunakan untuk satu seri yang sama, sehingga ada kemungkinan processor dengan kualitas tertinggi bisa dijual pada seri tersebut, dan seri-seri inilah yang code produksinya kemudian kita sebut “Gold-Batch”. Untuk mencari processor mana yg berada di posisi itu, ada batch code tertentu yang dapat ditelusuri, processor-processor pilihan dengan code-code istimewa tersebut yang biasa dicari oleh para overclocker. Istilah ‘Gold-Batch’ ini hanya untuk mempermudah menginisiali processor-processor tersebut. Setelah mengenal type dan batch CPU, anda perlu mengetahui dan mengenal batas maksimum kecepatan yang bisa dilampaui oleh CPU anda tersebut. Untuk selengkapnya bisa di lihat melalui forum atau internet.

Mainboard

* CHIPSET adalah point utama yang pertama harus anda amati dari mainboard anda. Cobalah amati jenis chipset tersebut dan kenali karakteristik, fungsi, dan dukungannya. Chipset adalah chip controller utama pada mainboard yang mengatur jalur data semua komponen yang ada, chipset biasanya terdiri dari dua, yaitu south bridge (bagian selatan/bawah), dan north bridge (bagian utara/atas/tengah dekat CPU). South bridge biasanya mengatur I/O, PCI, HDD, FDD, Sound, Lan, dan komponen pendukung lainnya. Sedang North bridge biasa digunakan untuk pengatur alur data komponen utama seperti CPU, memory, dan Display slot (AGP/PCI-E). Namun ada pula chipset yag bekerja sendiri / chipset tunggal yang sekaligus mengatur semuanya. Semua pheriperal yang dapat terpasang dan kemampuan upgrade dari mainboard sangat ditentukan oleh chipset yang dipakai. Chipset juga sangat menentukan kemampuan upgrade dan dukungan hardware yang mampu ditangani oleh komputer anda.
* KOMPONEN yang berkualitas sangat berpengaruh pada kestabilan, performa dan kualitas mainboard. Sebetulnya untuk membedakan kualitas komponen yang dipakai, sangat mudah dideteksi dan sangat kasat mata. Tanpa perlu memperhatikan mereknya pun, kita dapat membedakan dengan jelas kualitas komponen yang dipakai hanya dengan melihat tampilan fisiknya saja. Lalu bagian apasajakah yang perlu kita perhatikan ?

1. PCB, Mainboard yang memiliki ketahanan dan kualitas tinggi sangat dapat dilihat dari kualitas PCBnya, mainboard high-end biasa menggunakan PCB 8 layer. Selain jumlah layer, untuk mencermati perbedaannya dapat dilihat dari ketajaman jalur dan kegetasan saat PCB kita coba sedikit bengkokkan. Untuk beberapa mainboard kualitas tinggi pada PCB terdapat lapisan pendingin untuk membuang panas.
2. Kapasitor, perbedaan kualitas mainboard dapat dengan mudah dilihat dari kerapatan, jumlah, ukuran dan yang paling penting adalah jenis kapasitor yang digunakan. Mainboard yang mampu menjaga kestabilan dalam kompresi tinggi untuk beberapa bagian biasa menggunakan kapasitor low-esr (kapasitor perak), untuk kapasitor kualitas tinggi dibawah low-esr adalah kapasitor-kapasitor 1st grade buatan Jepang, contohnya seperti ‘Rubycon’ dan ‘Nichicon’ dengan bentuk yang mudah kita kenali yaitu belahan atas kapasitor berbentuk huruf ‘K’ untuk ‘Rubycon’ dan huruf ‘Y’ untuk ‘Nichicon’. Ada juga kapasitor Jepang 2nd grade yang berkualitas cukup baik dengan beberapa ciri lainnya, sedangkan kapasitor China dikenal jauh lebih murah dengan kualitas yang kurang baik. Untuk saat ini hampir semua merek mainboard kelas atas menggunakan kapasitor Jepang, namun anda tetap harus teliti, karena ada pula beberapa yang menggunakan kapasitor 2nd grade dan 3rd grade. Semakin banyak jenis kapasitor kelas atas, biasanya board tersebut mampu menawarkan kestabilan dan daya tahan yang semakin tinggi.
3. Regulator, Kondensator, Mofset, dan komponen-komponen lain juga bisa kita amati secara fisik. Dengan demikian akan mudah diketahui mainboard yang lebih stabil biasanya memakai komponen yang lebih tinggi kelasnya.
4. Pendinginan dan pengaturan aliran udara, serta layout mainboard juga dapat dengan mudah dilihat. Dari kesemuanya itu mencerminkan kelas dan kualitas mainboard yang bersangkutan. Khusus untuk pendinginan, faktor ini memang cukup penting untuk diperhatikan, namun ini adalah faktor eksternal dalam arti diluar lingkup “kualitas” mainboard itu sendiri. Sehingga ini adalah faktor yang paling mudah untuk kita modifikasi, dengan penambahan pendingin secara individu.

Dengan demikian, sebetulnya hanya dengan melihat dan membandingkannya secara fisik saja kita cukup bisa mengenali kualitasnya, meskipun belum secara total kinerjanya. Minimal dari sisi kestabilan dan kekuatan mainboard dapat kita lihat secara pintas dari pengamatan fisik ini. Sehingga apapun mereknya, bila mainboard tersebut memiliki kualifikasi seperti yang tersebut diatas, produk tersebut biasanya handal dan pantas untuk anda jadikan pertimbangan pilihan.

* BIOS adalah pengontrol utama seluruh sistem, fungsi dan pheriperal yang ada. Kinerja dan kestabilan sistem dapat berpengaruh dari BIOS. Bahkan mainboard dengan kualitas komponen biasa-biasa saja, apabila didukung dengan BIOS yang handal, akan mampu berjalan lebih optimal dari mainboard high-end sekalipun. Untuk itu sangat penting bagi kita untuk mempelajari secara khusus tentang BIOS, dan mengenali fungsi-fungsi yang ada di BIOS. Untuk mencermati kemampuan pengaturan pada BIOS, ha-hal yang harus diperhatikan adalah : fungsi pengatur FSB, multiplier, timing memory, divider/pembagi, penguncian AGP/PCI, system monitoring, dan terutama perhatikan secara seksama rentang voltase yang sanggup ditawarkan (Vcore, Vdimm, Vchipset, dll). Karena sesungguhnya, BIOS adalah senjata utama bagi kita untuk melakukan optimasi dan Overclocking.
* ONBOARD bisa dipandang positif dan negatif, namun jangan terlalu “anti” dengan onboard. Onboard artinya komponen tambahan yang langsung terintegrasi dalam mainboard (sound, LAN, VGA, dll). Onboard bukanlah masalah besar, dan belum tentu berkualitas buruk, dapat menjadi solusi ekonomis dan praktis, namun jangan pernah melupakan untuk memperhatikan slot ekspansi untuk peluang upgrade.
* FUNGSI tambahan baik berupa komponen chip tambahan, ataupun fungsi di luar BIOS (ini, itu, ini, itu, tidak perlu saya tulis di sini) baik itu fungsi penyetabil fungsi pengaturan kipas, fungsi overclocking tambahan dari windows (OC on the fly), maupun fungsi lain. Sebetulnya semua fungsi ini hanyalah kosmetika belaka, dan belum tentu akan anda gunakan. Bukan berarti fungsi-fungsi tersebut tidak ada gunanya, namun sebaiknya jangan menjadi prioritas utama, anggap saja sebagai tambahan, dan sesuaikan saja dengan kebutuhan anda karena yang terpenting untuk pengaturan segalanya adalah fungsi di BIOS. Untuk fungsi SLI dan Crossfire, sebaiknya untuk saat ini lupakan saja fasilitas tersebut karena kemungkinan sangat kecil anda akan menggunakannya, bukan berarti harus anda hindari, cukup abaikan saja. Kecuali anda memang langsung akan memasang sistem SLI-Crossfire, atau untuk kepentingan lain.

Power Supply

* DAYA dari Power Supply sebagai “Jantung” dari sistem kita harus dipastikan mampu memenuhi semua komponen yang terintegrasi di dalamnya. Coba temukan kapasitas daya optimal yang diperlukan untuk sistem anda, dan power supply apa yang sebaiknya digunakan untuk kebutuhan anda. Lalu bagaimana memperkirakan daya optimal yang diperlukan? Berikut adalah gambaran tentang daya murni PSU yang digunakan untuk keperluan sistem anda. Sebelumnya sebagai gambaran, PSU standard / low-end memiliki daya murni 50-70% dari daya yang tercantum pada label, sehingga anda bisa mengira-ira PSU yang sebaiknya anda gunakan sesuai kebutuhan sistem anda.
1. Sistem standard dan low-end membutuhkan daya murni 180W-240W.
2. Sistem Mainstream Pentium 4 / Athlon dengan kapasitas HDD besar, gaphic card kelas menengah, dan tambahan 2 optical drive membutuhkan = 300W-400W.
3. Sistem High-end dengan beberapa drive namun hanya satu keping display card memerlukan daya murni 430W – 500W.
4. Sistem High-end dengan Raid atau SLI/ Crossfire memerlukan daya 550W-750W.
5. Sistem extreme dual GPU SLI/CF, dual core, dan RAID memerlukan daya diatas 800W.

Kapasitas daya tergantung dari komputer. Perkirakan kebutuhan daya dan PSU yang ada.
* FLUKTUASI. Sebetulnya ada yang lebih penting dari sekedar daya yang diperlukan, yang sangat berpengaruh terhadap kemampuan overclocking, keawetan, dan kestabilan sistem, yaitu faktor fluktuasi daya dan voltase / tegangan saat sistem mendapatkan beban yang berat. Namun untuk mengatasi faktor ini anda terpaksa harus menyisihkan ekstra dana dengan membeli PSU berkelas. Selain fluktuasi yang bisa lebih dijaga, daya dan tegangan yang dihasilkan juga akan jauh lebih murni. Secara sederhana fluktuasi ini bisa di lihat di sistem monitor pada BIOS / program tertentu, atau untuk lebih tepatnya gunakan multitester untuk mengukurnya. Bila kondisi memungkinkan silahkan modifikasi power supply anda. Untuk lebih jelasnya bisa di baca pada bagian ‘modding PSU’. Sebagai sedikit panduan, PSU yang baik adalah PSU yang memiliki kesetabilan daya dan tegangan, dengan “apapun” yang terjadi pada sistem. Jadi semakin sedikit fluktuasi semakin baik pula PSU tersebut.

Display Card

Display Card merupakan modul miniatur dari sistem yang semi independent, karena didalamnya terintegrasi processor, memory, BIOS, dan sebagainya. Sehingga display card memiliki kompleksitas yang tinggi. Namun untuk memudahkan anda menyeleksi menganalisa display card silahkan cermati bagian-bagian berikut :

* GPU, hampir sama dengan processor, amati type chipset yang digunakan, jangan terjebak pada “penamaan” seri dan merek, karena dengan mengenali jenis dan type chipset, kita akan lebih mudah mengetahui kemampuan sesungguhnya.
* BIT, jumlah bit (64 bit, 128 bit, 256 bit) adalah lebar data bandwidth dalam RAM yang ditanamkan pada suatu VGA card. Semakin besar jumlah bit memungkinkan RAM menerima asupan data yang lebih banyak ketimbang jumlah bit yang lebih sedikit. Perbedaan mencolok dapat dilihat pada kecepatan loading suatu scene game masa kini yang menggunakan polygon yang banyak dan tekstur berukuran besar.
* TEKNOLOGI, setiap produsen chipset VGA card mempunyai arsitektur teknologi yang berbeda dengan kompetitornya, misalnya Nvidia dengan SLI-nya atau ATi dengan Crossfire-nya. Pelajarilah keunggulan arsitektur VGA card yang diusung oleh para produsen VGA card tersebut.
* MEMORY (RAM) VGA card berpengaruh pada saat loading suatu data 3D (polygon, tekstur, dll) dan sebagai tempat penampungan sementara ketika GPU memproses data tersebut. Semakin cepat dan besar jumlah RAM, semakin besar pula daya tampungnya, sehingga proses kalkulasi data 3D dapat dilakukan dengan lebih cepat tanpa harus menunggu ketersediaan data di-load oleh RAM terlalu lama (efek bottleneck). Coba perhatikan code seri pada memory VGA anda, dan temukan berapa nano kecepatannya (semakin kecil semakin tinggi potensinya. Timing memory pada VGA juga sangat berpengaruh pada kinerja, namun pengaturannya membutuhkan editor BIOS dari type VGA tersebut. Ingat saat ini teknologi memory untuk VGA jauh melesat lebih dari teknologi memory sistem.
* FISIK, Kualitas display card juga dapat diidentifikasi dari bentuk fisiknya dengan cara sama dengan mengidentifikasi kualitas mainboard seperti dijelaskan sebelumnya.

Memory

* JENIS, type memory adalah pilihan pertama yang akan anda lakukan, karena saat ini kita dihadapkan dengan dua jenis memory, yaitu DDR dan DDR2. dan kini telah muncul DDR3. Dari sisi teknis DDR2 memang mampu berjalan pada clock yang lebih tinggi dari DDR, bahkan hingga tiga kali lipatnya, dan akhir-akhir ini telah muncul beberapa seri DDR2 dengan timing ketat (CL-3). Namun sesungguhnya untuk kecepatan standard, kinerja yang dihasilkan DDR dan DDR2 sendiri tidak memiliki perbedaan yang jauh.

Satu pedoman yang harus menjadi catatan bagi kita adalah perbedaan prinsip kerja memory pada AMD seri K8 (Athlon 64) dengan sistem lainnya. Pada sistem berbasis AMD K8 series (Athlon 64) terjadi pemotongan jalur data untuk memory, yaitu pemindahan memory controller pada chipset langsung ke dalam badan core processor, sedangkan pada Intel ataupun sistem AMD sebelumnya masih menggunakan bantuan chipset untuk controller memory ini, disini berarti kita memiliki dua cara pandang yang berbeda terhadap memory yang akan digunakan pada sistem berbasis K8 dengan sistem lainnya.

Perbedaan tersebut berhubungan dengan bus yang digunakan, timing yang diperlukan, dan kondisi kecepatan memory yang diselaraskan dengan processor pada sistem tersebut. Dengan demikian kita bisa menentukan pilihan chipset memory yang paling tepat untuk sistem kita, apakah mementingkan timing, mementingkan clock yang tinggi, atau mementingkan keselarasan antara bus processor dan memory. Namun perbedaan tersebut hanya akan penting dan terasa pada penggunaan sistem dengan memory DDR, sedang pada DDR2 semua tampak sama. Pada DDR2, semakin tinggi bus, akan semakin tinggi pula kinerjanya, disini bandwidth lebih berperan dari timing, karena clock yang sanggup digapai DDR2 sangat jauh melebihi DDR, sehingga keketatan timing tampak “seolah-olah” tidak lagi menjadi prioritas. (sebagai gambaran, bandwidth sistem dengan DDR rata-rata berkisar di angka 3000-5000, sedang pada DDR2 berkisar 7000-10000).

* TIMING, merupakan pengatur kecepatan data yang akan dan sedang diolah oleh memory, sehingga sangat berpengaruh dengan jumlah data yang sanggup diselesaikan untuk proses selanjutnya. Ada banyak sekali pengaturan timing pada memory, namun disini kami akan berikan beberapa gambaran dasar tentang itu. Di sini kami tampilkan keterangan mengenai timing.

Timing utama dari memory :

• CAS (tCL) Timing: CAS (Column Address Strobe / Column Address Select)
Adalah pengontrol waktu putaran saat pengiriman data pembacaan perintah sampai pembacaan tersebut berlangsung. Waktu dari awal CAS ke akhir CAS biasa disebut waktu ‘latency’. Semakin rendah nilai ini, berarti proses semakin cepat dan performance semakin tinggi. Jadi CAS latency merupakan waktu penundaan dalam perputaran waktu antara pengiriman perintah pembacaan sampai data pembacaan pertama itu terkirim ke output. Bagian ini adalah bagian terpenting dan yang paling menentukan kecepatan akses memory.
Contoh : 2.5-3-3-8 angka “2.5” adalah CAS timing.

• tRCD Timing: RAS to CAS Delay
Adalah pengontrol waktu putaran saat pengiriman data pembacaan perintah sampai pembacaan tersebut berlangsung. Waktu dari awal CAS ke akhir CAS biasa disebut waktu ‘latency’. Semakin rendah nilai ini, berarti proses semakin cepat dan performance semakin tinggi. Jadi CAS latency merupakan waktu penundaan dalam perputaran waktu antara pengiriman perintah pembacaan sampai data pembacaan pertama itu terkirim ke output. Bagian ini adalah bagian terpenting dan yang paling menentukan kecepatan akses memory.
Contoh : 2.5-3-3-8 angka “2.5” adalah CAS timing.

• tRCD Timing: RAS to CAS Delay
(Row Address Strobe/Select to Column Address Strobe/Select). Adalah waktu penundaan perintah yang aktif hingga siap untuk dilakukan proses pembacaan / penulisan.
Contoh : 2.5-3-3-8 angka “3” adalah tRCD timing.

• tRP Timing: Row Precharge Time.
Adalah waktu minimum yang digunakan antara perintah yang aktif ke proses pembacaan/penulisan data pada keping memori berikutnya pada memori module.
Contoh : 2.5-3-4-8 angka “4” adalah tRP timing.

• tRAS Timing: Min RAS Active Time.
Adalah waktu pengaktifan dan penonaktifan perintah masing-masing baris memori sampai berakhirnya batas waktu tRAS yang ditetapkan. Semakin rendah, performanya semaki cepat, namun bila terlalu cepat data yang dipindahkan belum tentu terselesaikan semua, sehingga bisa mengakibatkan proses tidak sempurna dan data corrupt. Untuk penghitungan angka tRAS yang optimal adalah dengan menjumlahkan tCL, tRCD, dan tRP (tRAS = tCL + tRCD + tRP), dengan konfigurasi +/- 1 dari angka tersebut. (2.5+3+4 = 9.5) => jadi angka tRAS yang diambil 8, 9, atau 10.
Contoh : 2.5-3-4-8 angka “8” adalah tRAS timing.

Timing lainnya :

• tWR - Write Recovery Time
tWR adalah putaran waktu yang diperlukan untuk proses penulisan data dengan persiapan data untuk perintah selanjutnya. tWR diperlukan untuk memastikan semua data di buffer penulisan dapat tertulis dengan aman dan sempurna di chip memori.

• tRAS - Row Active Time
tRAS adalah putaran waktu yang diperlukan untuk proses tampungan perintah aktif yang akan dilaksanakan (bank active command) ke masuknya perintah tersebut ke perintah yang akan siap dikerjakan (precharge command).

• tRC - Row Cycle Time
tRC adalah waktu interval minimal perintah aktif yang telah terlaksana pada keping / bank yang sama.
tRC = tRAS + tRP

• tRP - Row Precharge Time
tRP adalah putaran waktu yang diperlukan untuk proses perintah yang siap dilaksanakan (precharge command) ke perintah aktif (active command). Pada waktu ini keping/bank memori telah aktif.

• tRRD - Row Active to Row Active Delay
tRRD adalah interval minimal antara perintah yang telah aktif ke proses yang akan dieksekusi di keping/bank selanjutnya.

• tCCD - Column Address to Column Address Delay
tCCD adalah waktu tunda untuk pengaturan perintah pada masing-masing column address.

• tRD - Active to Read Delay
tRD adalah penundaan waktu yang diperlukan untuk proses perintah yang telah aktif ke perintah baca.

• tWTR - Internal Write to Read Command Delay
tWTR adalah waktu tunda untuk proses penulisan di keping memori ke proses perintah pembacaan data yang telah dituliskan tersebut.

• tRDA - Read Delay Adjust
tRDA adalah pengaturan waktu tunda untuk proses pembacaan data di memory.

Write By HyperClocking Team

Tulisan ini dibuat bukan untuk menggurui atau sejenisnya tetapi lebih diutamakan pada share edukasi..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar